Remarks From The Chair in Bahasa

 

………ICARES 2015, Discovery Kartika Plaza Hotel, Kuta, Bali, 3-5 Desember 2015………Submission Deadline Extended: 10 September 2015………Paper Submission Link: http://edas.info/N20869……………ICARES 2015 is side event of The 22nd Session of the Asia-Pacific Regional Space Agency Forum (APRSAF-22)……………

Remarks (in bahasa)

Dr. Arifin Nugroho, Chair of Indonesia Chapter IEEE AESS/GRSS

Selamat datang di Indonesia Joint Chapter dari Aerospace  & Electronics System Society dan Geoscience & Remote Sensing Society!

 

Joint Aerospace  & Electronics System Society dan Geoscience & Remote Sensing Society telah diputuskan berdiri oleh IEEE HQ pada bulan Mei 2013 yang lalu.

Chapter gabungan ini diharapkan akan menjadi platform bagi para anggota yang tertarik dalam bidang Aerospace & Electronics maupun Geoscience & Remote Sensing.

Untuk menjadi anggota Chapter ini, caranya gampang.

Mendaftar saja di IEEE melalui ieee.org, untuk menjadi anggota IEEE. Kemudian, setelah itu baru mendaftarkan ke salah satu Society , apakah AES ataupun GRS. Tapi juga boleh dua-duanya.

Dalam hal ini, karena anggota Chapter gabungan tersebut  ada di Indonesia, kami mempertanyakan apakah harus ada tuition fee terpisah. Idealnya kami rasa begitu mengingat sebuah organisasi kalau tidak ada modal untuk bergerak menjadi susah juga. Antara lain, dana tersebut untuk menutupi kebutuhan atas biaya konferensi, tutorial, member gathering dsb.

Kami berniat untuk mengadakan pelbagai pertemuan teknik termasuk symposium, konperensi, seminar, workshop, tutorial, dst. Idealnya, dalam setahun ada satu atau dua pertemuan teknik akbar, dua kali tutorial, member gathering, pertemuan anggota untuk pemilihan pengurus untuk tahun berikutnya.  Kita juga bisa mengadakan konperensi internasional secara mandiri ataupun bersama-sama dengan chapter lain, ataupun dengan organisasi nasional lainnya seperti Lapan.

Dalam setiap gathering akan dicoba memperoleh sponsor sehingga diperoleh suatu sinerji timbal balik antara IEEE dengan industry.

Dua Society ini kami ajukan berdasarkan pengamatan telah adanya berbagai kenyataan sbb :

  1. Kegiatan design payload roket  seperti Komurindo menunjukkan kenaikan konstan dari peserta  dari tahun ketahun
  2. Lapan secara sistematis telah melakukan riset, desain, implementasi pelbagai platform aerospace , yaitu satelit mikro untuk observasi bumi maupun komunikasi, UAV untuk pemotretan dari udara, serta  roket untuk membawa pelbagai payload atau transponders.
  3. Lapan juga secara kontinu meningkatkan kemampuannya untuk mengolah data citra (imager) yang datangnya dari pelbagai Earth Observation Satellite (EOS) baik optis maupun radar.  Kemudian mereka juga melakukan pengukuran atmosfir dan ionosfir serta pelbagai kegiatan saintifik lainnya : instrument untuk kestabilan pesawat(gyro-wheel), serta pengintegrasian pelbagai komponen sensor.
  4. Kegiatan pengontrolan maneuver UAV  juga diminati dikalangan mahasiswa dan dosen
  5. Adanya perhimpunan beberapa Universitas dalam pengembangan bersama satelit nano bagi keperluan riset dan edukasi , yaitu kegiatan riset INSPIRE (Indonesian Nano Satellite Platform for Research and Education). Kegiatan ini telah menimbulkan gelombang desain diantara universitas sampai ketingkat embedded system untuk spacecraft data handling, spacecraft body, power system, remote sensing payload, telemetry, telecommand, maupun tracking earth station. Perlu disebutkan tokoh-tokoh yang sangat gigih dalam memperjuangkan kegiatan ini diantaranya ialah : bapak Gunawan Setya Prabowo dari Lapan, bapak Tri Kuntoro Priyambodo dari UGM, Dr. Agfianto dari FLIN UGM,  Prof Gamantyo dari ITS, Dr. Endra Pitowarno dari PENS, Dr. Asvial dari UI, serta Dr. Ridanto dari ITB.
  6. Seminar tahunan dalam bidang teknologi satelit (ISCOS) yang telah terus menerus diadakan di ITS sejak tahun 2010.
  7. Kegiatan pengolahan data satelit  telah diminati oleh pelbagai departemen dan universitas dalam kegiatan seperti internasional seperti  ACRS  dsb, terbukti dari jumlah paper yang semakin banyak.

Dengan melihat pelbagai kenyataan diatas mendorong beberapa rekan insinyur baik dalam dan luar negeri untuk segera medirikan masyarakat ilmiah dilingkungan IEEE yaitu  AESS-GRSS. Tokoh yang sangat menonjol dan sangat berjasa untuk memperjuangkan approval dari IEEE adalah Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo (kepala Lab Remote Sensing dari Chiba University) dan Prof Wolfgang  Martin Boerner , seorang professor emeritus dari Chicago.

Kini IEEE Indonesia sudah mempunyai platform untuk secara bersama meningkatkan kegiatan riset dan disain baik dikalangan universitas, lembaga penelitian, maupu industry didalam bidang yang sangat strategis untuk kita semua.  Kedepan kita akan galakkan adanya symposium maupun konperensi local, nasional, regional maupun internasional, sehingga partisipasi Indonesia semakin meningkat didalamnya.  Kita juga akan meningkatkan tutorial dalam dua bidang yang sangat luas ini, baik secara fisik maupun secara internet. Contoh yang dilakukan oleh Telkom University di Bandung untuk menyelenggarakan kuliah S2 dibidang saintifik melalui Internet kiranya patut untuk ditiru,  bahwa tutorial interaktif dalam bidang yang penuh dengan model matematispun bisa dilaksanakan dengan Internet.

Kerjasama internasional antar lembaga penelitian dalam bidang remote sensing perlu ditingkatkan seperti yang dilakukan oleh Chiba University untuk mengajak pelbagai Universitas di Indonesia untuk mengadakan riset bersama. Satelit DLR Jerman juga menawarkan data-data radar untuk diolah dan diklasifikasi untuk pelbagai keperluan kehutanan, penghijauan, pengendalian polusi, banjir, dan persoalan lingkungan lainnya. Kiranya kegiatan riset dan rekayasa yang dimotori oleh Lapan harus kita jadikan referensi nasional kita.

Negara kita yang sangat luas ini membutuhkan keahlian pelbagai bidang terutama dalam bidang strategis seperti UAV, pesawat, roket dan satelit.  Bidang tersebut harus bisa dikuasai secara mandiri karena tidak mungkin terjadi alih teknologi secara cuma-cuma.  Kita harus mencontoh India yang sudah demikian gigihnya mengembangkan roket dan satelit. Lahir hampir bersamaan dengan Lapan sekitar tahun 50-an, namun dua minggu yang lalu ISRO telah mengirim satelit observasinya ke planet Mars.  Saintis India pernah mengatakan : kita jangan mimpi untuk mendapatkan teknologi  ruang angkasa tetapi harus kita kembangkan sendiri, dan harus kita temukan sendiri.  Teknologi material, chemical propulsion, electric propulsion, control dan navigasi roket, UAV beserta kontrolnya, satelit dan attitude control nya, telemetri, pengolahan data telemetri, peningkatan kualitas roket dengan pengukuran pelbagai data fisik seperti temperature, stress dan strain dari material, dst… harus kita kembangkan dengan model matematik dan tools yang memadai dan modern.  Di Amerika para engineers bersatu padu dalam AIAA, di samping dalam IEEE.

Kami, AESS-GRSS dari Indonesia Section, ingin menghimpun dan mengkoordinasikan kegiatan yang sangat luas ini demi peminatan dikalangan insinyur-insinyur muda untuk dapat mengambil bagian dalam desain dan rekayasa  aerospace electronics dan geosciences & remote sensing.  Marilah kita jadikan Website kita sebagai ajang berkomunikasi dalam bidang strategis ini diantara kita, dan untuk mengkomunikasikan terutama kepada pemerintah Indonesia, untuk menyadari bahwa bidang aerospace itu hanya bisa  tumbuh subur  karena adanya visi yang kuat dari pemerintah dalam memberikan dukungan yang penuh dalam membiayai penelitian, maupun pengembangan program-program strategis pemerintah termasuk untuk keperluan strategic militer.

Perlu dibangunnya komunitas yang kuat  demi memajukan penguasaan teknologi AES dan GRS, untuk memposisikan kita agar lebih baik dan terhormat dimata bangsa-bangsa lain.

Mari bergabung bersama didalam  AESS dan GRSS.

 

AESS GRSS Indonesia Chapter